Senin Biasa XXXII


Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.  Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Yesus memperingatkan betapa menyedihkan jika kita menyesatkan orang lain dan menjadi "penyebab" melemahnya iman sesama. Sembari merefleksikan cara hidup kita, misalnya bagaimana kita mengkiti Misa Hari Minggu dan apakah kita berdoa secara sungguh-sungguh ? Apakah kita mudah memaafkan, atau justru terlalu materialistik dan malah mengabaikan semua itu ? Apakah tantangan Tuhan hari ini?.

Perdamaian Kristus pada tempat pertama merupakan rekonsiliasi dengan Sang Bapa, yang dihasilkan oleh pelayanan Yesus yang dipercayakan kepada para muridNya dan yang bermula dengan permakluman perdamaian: “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini” (Luk 10:5; bdk. Rm 1:7). Selanjutnya, perdamaian adalah rekonsiliasi dengan para saudara dan saudariku, sebab di dalam doa yang Yesus ajarkan kepada kita, yaitu “Bapa Kami”, pengampunan yang kita mohonkan dari Allah dikaitkan dengan pengampunan yang kita berikan kepada para saudara dan saudari kita: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Dengan rekonsiliasi ganda ini, orang-orang Kristen menjadi pembawa damai dan karenanya turut serta dalam Kerajaan Allah, sesuai dengan apa yang Yesus sendiri wartakan di dalam Sabda Bahagia: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). (KDASG 492).