Pesta St Karolus Boromeus

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Yesus menyebut diriNya "Gembala" Yang Baik. Ia menegaskan cintaNya yang tanpa syarat bagi semua orang, terutama yang hilang, kesepian dan lemah. Dengan jaminan perlindunganNya, kita yakin bahwa tidak ada sesuatu yang membahayakan, yang akan menimpa kita, karena kuasa IlahiNya yang Mahakuasa.

Ajaran sosial Gereja disajikan sebagai sebuah “situs kerja” di mana kerja selalu berproses, di mana kebenaran yang abadi menerobos dan meresapi lingkup-lingkup baru, seraya menunjukkan jalan keadilan dan perdamaian. Iman tidak lancang membatasi realitas-realitas sosial dan politik dalam sebuah kerangka yang tertutup. Malah yang sebaliknya benar: iman adalah ragi pembaruan dan kreativitas. Ajaran yang senantiasa mengambil hal ini sebagai titik tolak “berkembang melalui refleksi atas pelbagai situasi yang berubah-ubah di dunia ini, atas dorongan kekuatan Injil sebagai sumber pembaruan.” Sebagai Bunda dan Guru, Gereja tidak menutup dirinya atau mengundurkan dirinya namun selalu terbuka, menjangkau ke luar dan berpaling kepada manusia, yang tujuan akhirnya berupa keselamatan menjadi alasan keberadaan Gereja. Gereja berada di tengah-tengah manusia sebagai ikon yang hidup dari Gembala Baik yang pergi mencari dan menemukan manusia di mana saja ia berada, di dalam lingkup eksistensial dan historis kehidupannya. Di sanalah Gereja menjadi bagi manusia sebuah titik kontak dengan Injil, dengan amanat pembebasan dan rekonsiliasi, keadilan dan perdamaian. (KDASG 86).