Kamis Biasa XXXI

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 

Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?  Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Yesus menunjukkan pilihan kasih untuk orang miskin dan bagi orang berdosa. Masyarakat sekuler justru meminggirkan dan mengeksploitasi mereka. Mereka adalah para pecandu narkoba, pelacur, korban HIV / AIDS dan sejenisnya. Bagaimana kita menghormati martabat kemanusiaan orang-orang terpinggirkan seperti mereka ?

Prinsip menyangkut tujuan universal harta benda menuntut bahwa kaum miskin, orang-orang yang disingkirkan dan semua saja yang kondisi kehidupannya menghalangi pertumbuhannya yang sepatutnya harus menjadi pusat perhatian khusus. Untuk mencapai hal ini maka pilihan mengutamakan kaum miskin mesti ditegaskan kembali dalam segenap kekuatannya. “Ini merupakan pilihan atau prioritas dalam mengamalkan cinta kasih Kristen yang tentangnya diberi kesaksian oleh seluruh tradisi Gereja. Pilihan atau sikap itu mewarnai kehidupan setiap orang Kristen, sejauh ia berusaha meneladani kehidupan Kristus, namun diterapkan juga pada pokok-pokok tanggung jawab sosial kita, dan karena itu pada cara hidup kita, serta pada keputusan-keputusan sewajarnya yang perlu diambil mengenai hak kepemilikan dan penggunaan harta benda. Lagi pula, mengingat bahwa dewasa ini masalah sosial meluas meliputi seluruh dunia, cinta kasih yang mengutamakan kaum miskin itu, begitu pula keputusan-keputusan yang diilhamkannya kepada kita, mau tak mau harus merangkul massa tak terbilang mereka yang lapar, serba kekurangan, tuna wisma, orang-orang tanpa pelayanan kesehatan, dan terutama orang-orang tanpa harapan akan masa depan yang lebih baik. (KDASG 182).