Sabtu Biasa XXX

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

"Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.

Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Yesus menasehati agar kita tidak membanggakan diri dan memikirkan terlalu tinggi tentang diri sendiri meskipun kita memiliki kesuksesan di dunia. Jika kita mampu bersyukur kepada Tuhan atas semua berkatNya, kita akan menjadi lebih rendah hati dan menerima rahmat Allah.

Cinta kasih mesti hadir di dalam dan meresapi setiap relasi sosial. Hal ini berlaku secara istimewa bagi orang-orang yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Mereka “hendaknya berkarya sedapat mungkin demi kesejahteraan rakyat, khususnya melalui usaha-usaha yang tekun untuk menyuburkan dalam diri mereka dan mengilhamkan kepada sesama pelaksanaan cinta kasih, ratu dan yang perdana di antara semua kebajikan. Sebab memang terutama dari kelimpahan cinta kasihlah boleh diharapkan buah-hasil yang diinginkan. Yang kami maksudkan cinta kasih Kristen, kebajikan yang merangkum seluruh hukum Injil. Cinta kasih itulah yang menjadikan manusia senantiasa dan sepenuhnya bersedia untuk mengorbankan diri demi kesejahteraan bersama. Cinta kasih itu jugalah penawar yang paling efektif untuk menanggulangi kecongkakan duniawi dan cinta diri yang tidak teratur.” Cinta kasih ini boleh disebut “cinta kasih sosial” atau “cinta kasih politik”, dan mesti merangkum segenap bangsa manusia. “Cinta kasih sosial” merupakan antitesis terhadap egoisme dan individualisme. (KDASG 581).