Hari Raya Semua Orang Kudus

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Sabda Bahagia menunjukkan Para Kudus yang menangkap semangat yang dihidupi Kristus sebagai tuntutan Injil. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memerlukan kasih karunia Allah yang melimpah untuk memperkuat dan mendukung kehidupan kita. Mari kita mengambil langkah yang realistis dan sabar, untuk semakin memperdalam hubungan dengan Tuhan.

Cinta kasih Gereja terhadap kaum miskin diilhami oleh Injil Sabda Bahagia, oleh kemiskinan Yesus dan oleh perhatian-Nya kepada kaum miskin. Cinta kasih ini berkenaan dengan kemiskinan materiil dan juga banyak bentuk kemiskinan budaya dan kemiskinan religius. Gereja “sejak awal, dan walaupun ada kelemahan dari banyak anggotanya bekerja tanpa henti-hentinya supaya membantu, membela dan membebaskan yang tertindas melalui karya amal yang tak terhitung jumlahnya, yang masih dibutuhkan, selalu dan di mana-mana.” Terdorong oleh perintah Injil, “kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8), Gereja mengajarkan bahwa seseorang harus membantu sesamanya di dalam berbagai kebutuhannya dan memenuhi masyarakat manusia dengan karya-karya belas kasih di bidang jasmani dan rohani yang tak terbilang banyaknya. “Dari semua karya itu, memberi derma kepada orang miskin adalah satu dari kesaksian utama cinta kasih persaudaraan; ia juga merupakan satu perbuatan keadilan yang berkenan kepada Allah,” bahkan walaupun praktik cinta kasih itu tidak terbatas pada memberi derma tetapi mencakup pula penanganan matra-matra sosial dan politik dari persoalan kemiskinan. (KDASG 184).